Rabu, 30 Desember 2015

EJAAN, TANDA BACA, PILIHAN KATA, KEEFEKTIFAN KALIMAT, KETERPADUAN PARAGRAF, DAN KEBULATAN WACANA

EJAAN, TANDA BACA, PILIHAN KATA, KEEFEKTIFAN KALIMAT, KETERPADUAN PARAGRAF, DAN KEBULATAN WACANA

I. PENULISAN HURUF

Huruf Besar atau Huruf Kapital

Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya : Ada gula, ada semut.
                Apa maksudmu ?
Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya : Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci dan nama Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya :
Allah
                Yang Mahakuasa
                Quran
                Alkitab

Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya : Haji Agus Salim
                Imam Syafi’I
      Perhatikan penulisan berikut :
      Hasanuddin, sultan Makasar, digelari juga Ayam Jantan dari Timur.
Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang.
Misalnya : Gubernur Ali Sadikin
                Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
      Perhatikan penulisan berikut :
      Siapakah gubernur yang baru dilantik itu ?
      Brigadir Jenderal Ahmad baru dilantik menjadi mayor jenderal.
Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf pertama nama orang.
Misalnya : Halim Perdanakusumah
                Wage Rudolf Supratman
Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku dan bahasa.
Misalnya : bangsa Indonesia
                suku Sunda
                bahasa Inggris
      perhatikan penulisan berikut :
      mengindonesiakan kata-kata asing
      keinggris-inggrisan
Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya :
tahun Hijrah
                tarikh Masehi
                        bulan Agustus
                        hari Jum’at
                        hari Lebaran
                        Perang Candu
                        Proklamasi Kemerdekaan

      Perhatikan penulisan berikut :
      memproklamasikan kemerdekaan

Huruf besar atau kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi.
Misalnya:
Asia Tenggara
                        Banyuwangi
                        Bukit Barisan
                        Cirebon
                        Danau Toba

Perhatikan penulisan berikut :

       berlayar ke teluk
                  mandi di kali
                  menyeberangi selat
                  pergi ke arah barat

Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi.
Misalnya : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
                  Dewan Perwakilan Rakyat
                  Republik Indonesia
                  Majelis Permusyawaratan Rakyat
                Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa
                  Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
Tetapi perhatikanlah penulisan berikut :
                        menurut undang-undang dasar kita
                        pemerintah republik itu
Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata partikel, seperti : di, ke, dari, untuk, dan, yang, yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya : Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
                        Pelajaran Ekonomi untuk Sekolah Lanjutan Atas Salah Asuhan
Huruf besar atau huruf kapital dipakai dalam singkatan nama gelar dan sapaan.
Misalnya :     Dr.        Doktor
        Ir.        Insinyur
        M.A.        Master of Arts
        Ny.        Nyonya
        Prof.        Profesor
        Sdr.        Saudara
        S.E.        Sarjana Ekonomi
        S.H.        Sarjana Hukum
        S.S.        Sarjana Sastra
        Tn.        Tuan
Catatan :
Singkatan di atas selalu diikuti oleh tanda titik. 

Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.
Misalnya : Kapan Bapak berangkat ?
                        Itu apa, Bu ?
                        Surat Saudara sudah saya terima.
                        Besok Paman akan datang.
                        Silakan duduk, Dik !
                        Mereka pergi ke rumah Pak Camat.
                        Para ibu mengunjungi Ibu Hasan.

Catatan :
Huruf besar atau huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.

Huruf Miring
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk :
Menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan.
Misalnya : majalah Bahasa dan Kesustraan
                Negarakertagama karangan Prapanca
Menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
Misalnya : bab ini tidak membicarakan penulisan huruf besar.
                        Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.
                        Huruf pertama kata abad ialah a.
Menuliskan kata nama-nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya : apakah tidak sebaiknya kita menggunakan kata penataran untuk kata up-          
                 grading ?
                      Buah manggis nama ilmiahnya ialah Garcinia mangostana.
                      Politik divide et impera pernah merajalela di negeri ini.
                      Weltanschauung antara lain diterjemahkan menjadi ‘pandangan dunia’.
Catatan :
Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring diberi satu garis di bawahnya.

II.PENULISAN KATA

Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai suatu kesatuan.
Misalnya : Ibu percaya engkau tahu.
                  Kantor pajak penuh sesak.
                  Buku itu buku baru.

Kata Turunan
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya :   
bergeletar
        dibiayai
        diperlebar
        mempermainkan
        menengok

Awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya kalau bentuk dasarnya berupa gabungan kata.
Misalnya :    bertepuk tangan
        garis bawahi
        menganak sungai
        sebar luaskan
Kalau bentuk dasar berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat awalan dan akhiran, maka kata-kata itu ditulis serangkai.
Misalnya :    memberitahukan
        mempertanggungjawabkan
        dilipatgandakan
        penghancurleburan
Kalau salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya :   
amoral
        Antarkota
        antikomunis
        bikarbonat
        caturtunggal
        dasawarsa
        demoralisasi
        dwiwarna
        ekawarna
        ekstrakurikuler
        infrastruktur
        inkonvensional
        internasional
        introspeksi
        kolonialisme
        kontrarevolusi
        kosponsor
        mahasiswa
        monoteisme
        multirateral
        nonkolaborasi
        pancasila
        panteisme
        poligami
        prasangka
        purnawirawan
        reinkarnasi
        saptakrida
        semiprofesional
        subseksi
        swadaya
        telepon
        transmigrasi
        tritunggal
        tunanetra
        ultramodern

catatan :
Bila bentuk terikat tersebut diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf besar, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya : non-Indonesia
                pan-Afrikanisme
Maha sebagai unsur gabungan kata ditulis serangkai kecuali jika diikuti oleh kata yang bukan kata dasar.
Misalnya :     Di daerahnya ia benar-benar “mahakuasa”
        Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
        Semoga yang Mahakuasa memberkahi usaha Anda.

Kata Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Misalnya :   
anak-anak
        berjalan-jalan
        biri-biri
        buku-buku
        centang-perenang
        dibesar-besarkan
        gerak-gerik
        hati-hati
        huru-hara
        kuda-kuda
        kupu-kupu
        kura-kura
        laba-laba
        lauk-pauk
        mata-mata
        menulis-nulis
        mondar-mandir
        porak-poranda
        ramah-tamah
        sayur-mayur
        sia-sia
        terus-menerus
        tukar-menukar
        tunggang-langgang
        undang-undang


Gabungan Kata
Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, bagian-bagiannya umumnya ditulis terpisah.
Misalnya :   
duta besar
        kambing hitam
        kereta api cepat luar biasa
        mata pelajaran
        meja tulis
        model linear
        orang tua
        persegi panjang
        rumah sakit umum
        simpang empat

Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan salah baca, dapat diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.
Misalnya :
alat pandang-dedngar
        anak-isteri
        bangku sejarah-baru
      dua-sendi
      ibu-bapak
        watt-jam
   
Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai.
Misalnya :
akhirukalam
alhamdulillah
apabila
bagaimana
barangkali
bilamana
bismillah
bumiputra
daripada
halalbihalal
hulubalang
kepada
manakala
matahari
padaghal
paramasstra
peribahasa
sekaligus
sendratari
silaturahmi
syahbandar


Kata ganti ku, kau, mu dan nya
Kata gantu ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; ku, mu, dan-nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
    Misalnya : Apa yang kumiliki boleh kau ambil
              Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.

Kata Depan di, ke, dan dari
    Kata depan di, ke dan dari ditulis terpisa dari kata yanng mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada (lihat juga Bab III, Pasal D, ayat 3.)
    Misalnya : Adik pergi ke luar negeri.
              Bermalam sajalah di sini.
Di mana ada Siti, di situ ada Sidin.
Ia datang  dari Surabaya kemarin.
Ia ikut terjun ke tenga kancah perjuangan.
Kain itu terletak di dalam lemari.
Kemana saja ia selama ini?
Kita perlu berpikir sepulh tahun ke depan.
Mari kkita berangkat ke pasar.
Mereka ada dirumah.
Saya pergi ke sana-sini mencarinya.
    Perhatikan penulisan berikut :
              Jangan mengesampingkan persoalan yang penting itu.
Kami percaya sepenuhnya kepadanya.
Ia keluar sebentar
Kemarikan buku itu.
Si Amin lebih tua daripada si Ahmad.
Semua orang yang terkemuka di desa itu hadir dalam kenduri itu.
Surat perintah itu dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 Maret 1966.

Kata si dan sang
Kata si dan sang  ditulis terpisah dari kata yamg mengikutinya.
Miasalnya : Harimau itu marah sekali kepada sang kacil.
          Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.
Partikel
Partikel-lah,-kah, dan-tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya : Apakah yang tersirat dalan surat itu ?
Bacalah buku itu baik-baik.
Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia.
Siapatah gerangan dia?
Partikel pun ditulis terpisa dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya : Apapun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Hendak pulang pun, sudah tak as kendaraa.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
Jika ayah pergi, adik pu ingin pergi.
    Kelompok kata yang berikut, yang sudah dianggap padu benar, ditulis serangkai : adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun,, biarpun kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun,sekalipun,sungguhpun, walaupun.
Misalnya :  Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
Baik para mahasiswa maupun para mahasiswi ikut berdemontrasi.
Sekalipun belum memuaskan, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.
Walaupun ia miskin, ia selalu gembira.
Partikel per yang berarti mulai, demi, dan tiap ditulis terpisah dari bagian-bagian     kalimat yang mendampinginya.
Misalnya :  Harga kain itu Rp 2.000,00 per helai.
Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
    Tentang penullisan gabungnan per deengan angka atau bilangan lihat Bab III,  Pasal 1, ayai 5.b)

I. Angka dan Lambang Bilangan
Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Didalam tulisan lazim digunakan angka Arab dan anngka Romawi. Pemakaianya diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.
Angka Arab    : 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi    : I, II, III, IV,V, VI, VII, VII, IX, X
    L (50), C (100), D (500), M (1.000),  V (5.000), M (1.000.000)
Angka digunakan untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat, dan isi, (b) satuan waktu, dan (c) nilai uang.
Misalnya :
        a. 10 leter
4 meter persegi
5 kilogram
0,5 sentimeter
10 persen
    b. 1 jam 20 menit
pukul 15.00
tahun 1928
17 Agustus 1945
    c. Rp 5.000,00
        U$ 3.50+
& 5.10+
Y 100
2.000rupiah
50 dolar Amerika
10 pon Inggris
100 yen

catatan :
+ Tanda titik di sini  melambangkan tanda desimal.
Angka lazim dipakai untuk menandai nomor jalan, rumah, apartemen atau kamar pada kalimat.
Misalnya : Jalan Tanah Abang I No. 15
Hotel Indonesia, Kamar 169
Angka digunakan juga untuk menomori karangan atau bagiaanya.
Misalnya : Bab X, Pasal 5, halaman 252
        surah Yasin : 9
Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakuka sebagai berikut :
Bilangan utuh
Misalnya : 12 dua belas
22 dua puluh dua
222 dua ratus dua puluh dua
Bilangan pecahan
Misalnya :   ½        setengah
¾        tiga perempat
1/16    seperenan  belas       
3 2/3    tiga dua pertiga
1/100    seperseratus
1%    satu persen
10/00    satu permil
1,2         satu dua persepuluh
Penulisan kata bilangan tingkat dapat dilakukan deengan cara yang berikut.
Misalnya :
        Paku Buwono X
Paku Buwono ke- 10
Paku Buwono kesepuluh
Bab II
Bab ke-2
Bab ke dua
Abad XX
Abad k-20
Abad kedua puluh
Tingkat I
Tingkat ke-I
Tingkat kesatu
(pertama)

Penulisan kata bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara yang berikut.
Misalnya : tahun 50-an        atau lima puluhan
Uang 5000-an        atau lima ribuan
    Lima uang 1000-an     atau lima uang seribuan       
(Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, bab V, Pasal E, ayat 5.)
Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecualli jika beberapa lambang bilangan dipakai secara beurutan, seperti dalam pemerincia dan pemaparan.
Misalnya :  Amir menonton drama itu sampi tiga kali.
Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang memberikan suara setuju, dan 5 suara blangko.
Kendaraa yang ditempuh untuk pengangkutan umum berjumlah 50 bus, 100 helicak, dan 100 bemo.
Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, sususnan kalimat diubah sehingga bilangan yanng tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat lagi pada awal kalimat.
Misalnya : Lima belas orang tewas dalam kecelakaa itu.
Bukan 15 orang tewas dalam kecelakaan itu.
Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.
Bukan : 250 orang tamu diundang Pak Darmo, atau
Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.
Angka  yang menunjukan bilangan bulat yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih muda dibaca.
Misalnya : Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Kecuali di dalam dokumen resmi, seperti akta dan kuitansi, bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekalligus dalam teks.
Misalnya :  Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.
Bukan : Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai
Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.
Bukan : Di lemari itu tersimpa 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.
Kalau bilangan dilambangkan dedngan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Misalnya : saya lampirkan tanda terima sebesar Rp 999,00 (sembilan ratus sembilan puluh sembila rupiah).
Saya lampirka tanda terima sebesar 999 (sembilan ratus sembilan puluh sembilan) rupiah. 

V. TANDA BACA
1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya :
Ayah tinggal di Solo.
        Biarlah mereka duduk disana.
        Dia menayakan siapa yang akan datang.
        Hari ini tanggal 6 April 1973.
        Marilah kita mengheningkan cipta.
        Sudialah iranya Saudara mengabulkan permohonan ini.

2. Tanda titik dipakai untuk singkatan nama orang.
    Misalnya :
A.S. Kramawijaya
               Muh Yamin
3. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan atau gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
Misalnya : Bc. Hk.     Bakalaureat Hukum
              Dr.         Doktor
              Ir.                     Insinyur
              Kep.         Kepala
              Kol.         Kolonel
              M.B.A        Master Of Business Administrasion
              M.S.C        Master of Science
              Ny.         Nyonya
              Prof.        Profesor
              Sdr.         Saudara
              S.E                    Sarjana Ekonomi
              S.H        Sarjana Hukum
              S.S                    Sarjana Sastra
4. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sangat umum.
    Pada  singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu
          tanda  titik.
Misalnya :
a.n.        atas nama
        dkk.        dan kawan-kawan
        dll.        dan lain-lain.
        dsb.         dan sebagainya
        dst.         dan seterusnya.
        hml        halaman.
        tgl.         tanggal
        u.b        untuk beliau
        u.p         untuk perhatian
        y.l         yang lalu.
        Yth.         Yang terhormat.

      5. Tanda titik dipakai dibelakang atau huruf dalam suatu bagian, ikhtisar, atau daftar.
    (Lihat jauga pemakaian tanda kurung, bab V, Pasal I, Ayat 3)
    Misalnya :
        III. Departemen Dlam Negeri
Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa.
Direktorat Jenderal Agraria.
Penyiapan Naskah :     1. Patokan Umum
Isi Karangan
Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik
    6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
          menunjukan waktu.
    Misalnya : pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 meniot 20 detik)
    7.Tanda titik dipakai untuk memisahkan angak jam, menit, dan detik yang
        menunjukan jangka waktu.
    Misalnya : 1.35.20 jam (1 jam, 35 lewat, 20 detik)
    8. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan angak ribuan, jutaan, dan seterusnya
    yang tidak menunjukan jumlah.
    Misalnya : Ia lahir pada tahun 1950 di Bandung
           Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
           Nomor gironya 045678. (Tanda titik disini mengakhiri kalimat).
    9. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata
    atau suku kata, atau gabungan keduanya, atau yang terdapat dalam akronim yang
    sudah diterima oleh masyarakat.
    Misalnya :
ABRI            Angkatan Bersenjata Republuk Indonesia.
MPR            Majelis Pemusyawaratan Rakyat
SMA             Sekolah menengan atas
UUD             Undang Undang Dasar
WHO            World Helath Oraganization
Deppen        Departeman Penerangan
ormas            Organisasi Masyarakat
radar            radio detecting and ranging
sekjen             sekretaris janderal
tilang             bukti pelanggaran
      10. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran,
    timbangan, dan mata uang.
        Misalnya:    Cu            kuprum
                 TNT             trinitrotoluen
                Cm             sentimeter
                L            Liter
                Kg             Kilogram
                Rp            rupiah
      11. Tanda titik tidak dipakai apda akhir judul yang merupakan kepala karangan
        atau kepala ilutrasi, tabel dan sebagainya.
        Misalnya :
            Acara kunjugan Adam Malik
            Bentuk dan Kedaulatan ( Bab I UUD 45)
            Salah Asuhan
      12. Tanda titik tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal aurat atau nama
        dan penerima surat.
        Misalnya :
                                Jalan Diponegoro 82
                                Jakarta
                                1 April 1973

            Yth. Sdr. Moh Hasan
            Jalan Arif 43 Palembang

            Kantor Penempatan Tenaga
                Jalan Cikini 71
            Jakarta
B. Tanda Koma ( , )
    1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian
        atau pembilangan.
        Misalnya :
            Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
            Satu, dua, …… tiga !
    2. tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara
        berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, melainkan.
        Misalnya :
            Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
            Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.
    3a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila
        anak kalimat  tersebtu mendahului induk kalimatnya.
        Misalnya :
            Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
            Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
    3b. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat
        apabia anak aklimat mengiringi induk kalimat.
        Misalnya :
            Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
            Dia lupa kan janjinya karena sibuk.
            Dia berpendapat bahwa soal itu tidak penting.
    4. tanda koma dipakai dibelakang kata atau ugkapan penghubung antar kalimat
        yang terdapat pada awl kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi , lagi –            pula, meskipun begitu, akan tetapi.
        Misalnya :
            Oleh karena itu kita harus berhati-hati.
            Jadi, soalnya tidaklah semudah itu.
    5. Tanda koma dipakai dibelakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang
        terdapat pada awal kalimat.
        Misalnya :
            O, begitu ?
            Wah, bukan main !
    6. tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari abgian lain dalam
        kalimat. (Lihat juga pemakain tanda petik, Bab V, Pasal L dan M)
        Misalnya :
            Kata ibu, “Saya gembira sekali.”
            “Saya gembira sekali, “ kata ibu, “ karena kamu lulus.”
    7. Tanda koma dipakai diantara (i)nama alamat, (iii) bagian-bagian alamat, (iii)
        temapat dan tanggal, dan (iv) nama temapt dan wilayah atau negeri ayang ditulis
        berurutan.
        Misalnya :
            Sdr. Abdulloh, Jalan Pisang Batu 1, Bogor.
    Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedoktera,
            Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemaba 6, Jakarta.
            Surabaya, 10 Mei 1960
            Kuala Lumpur, Malaysia
    8. Tanda koma dipakai untuk menceriakn bagian yang diba;lik susunannya dalam
        daftar pustaka.
        Misalnya : Siregar, Merari, Azab dan Sengsara. Weltevreden, Balai Poestaka,
                  1920.
    9. Tanda koma dipakai di antara tempat penerbit, nama penerbit, dan tahun penerbit.
        Misalnya : Tjokronegoro, Sutomo, Tjukupkah Saudara Membina persatuan                                    
                    Kita ? Erecon, 1968.
10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan akademik yang mengikutinya untuk membedakanya dari singkatan nama keluarga dan marga.
        Misalnya: B. Ratu langi, S.E.
                     Ny. Khadijah, M.A.
     11. Tanda koma di pakai di muka angka persepuluhan dan di antara rupiah dan sen dalam bilangan.
        Misalnya: 12,54 m
                             Rp12,50 (lambang Ri tidak  pakai titik)
12. Tanda koma di pakai untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi. (lihat juga pemakaian tanda pisah, Bab V, Pasal F.)
        Misalnya: Guru saya, pak Ahmad, pandai sekali.
Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki makan sirih.
                         Seorang mahasiswa, selaku wakil kelompoknya, maju cepat-cepat.
    13. Tanda koma tidak di pakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat apabila petikan lansung tersebut berakhiran dengan tanda tanya atau tanda seru dan mendahului bagian lain dalam kalimat itu.
        Misalnya: “Di mana saudara tinggal?” tanya Karim.
                         “Berdiri lurus-lurus!” perintahnya.

C. Tanda Titik Koma ( ; )
Tanda titik koma dapat di pakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya: Malam makin larut, kami belum selesai juga.
Tanda titik koma dapat di pakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Misalnya: Ayah mengurus tanaman di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar

D. Tanda Titik Dua ( : )
Tanda tititk dua di pakai pada akhir suatu pernyataan  lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnya: Yang kita perlukan sekarang adalah barang-barang yang berikut: kursi, meja, dan lemari.
        Fakultas itu memiliki dua jurusan: Ekonomi Umum dan Ekonomi Peusahaan .
Tanda dua titik di pakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya: a. Ketua        : Ahmad Wijaya
               Sekretaris     : S. Handayani
               Bebdahara : B. Hartawan
           b. Tempat sidang    : Ruang 104
               Pengantar Acara : Bambang S.
               Hari               : Senin
               Pukul                   : 9.30 pagi
Tanda dua titik di pakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya: Ibu: “Bawa kopor ini, Mir!”
           Amir: “Baik, Bu”
           Ibu: “ Jangan lupa. Letakkan baik-baik!”
Tanda dua titik tidak di pakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap  yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya: Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari
    Fakultas itu mempunyai jurusan Ekonomi umum dan Ekonomi Perusahaan.   
Tanda dua titik di pakai (i) di antara jilid atau nomor halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau (iii) di antara judul dan anak judul suatau karangan.
      Misalnya: (i) Tempo, I (1971), 34:7
                       (ii) Surah Yasin:9
    (iii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hdup: Sebuah Studi,                                                                          sudah terbit.

E. Tanda Hubung (-)
Kata penghubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
… Ada kata ba-
ru juga
Misalnya: 



Suku kata terdiri dari huruf tidak di penggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada ujung baris atau pangkal baris.
Kata hubung menyanmbung awalan dengan bagian kata di belakangnya, atau akhiran  dengan bagian di depanya pada pergantian baris.
… Cara baru meng-
ukur panas.
… Cara baru me-
ngukur kelapa.
… Alat pertahan-
an yang baru

Misalnya: 






Akhiran –i tidak di penggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.
Tanda hubung menghubung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya: anak-anak
           Berulang-ulang
           Dibolak-balik
           Kemerah-merahan
Tanda ulang (2) hanya di gunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan
Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Misalnya: p-a-n-i-t-i-a.
                   8-4-1973
Tanda hubung dapat di pakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian yang terpisah oleh pergantian baris.
Misalnya: ber-evolusi dengan be-revolusi
   Dua puluh lima-ribuan (20X5000) dengan dua puluh-lima-ribuan (1 x  25000)
  Istri-perwira yang ramah dengan istri perwira-yang-ramah.
Tanda hubung dipakai unutk merangkaikan (a) se- dengan berikutnya yang di mulai 
     dengan huruf kapital, (b) ke- dengan angka , (c) angka dengan an- , dan (d)  
     singkatan huruf kapital dengan imbuan atau kata.
         Misalnya :     se-Indonesia
                               se-Jawa Barat
                               hadiah ke-2
                               tahun 50-an
                               ber-SMA
                               KTP-nya nomor 141693
                               Bom-H
Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa indonesia dengan unsur bahasa asing.
Misalnya :     di-charter
                      pen-tackle-an

Tanda Pisah ( - )
     1.Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan
         khusus di luar bangun kalimat.
         Misalnya : Kemerdekaan bangsa itu-saya yakin akan tercapai—diperjuangkan oleh 
                           bangsa itu sendiri.
Tanda pisah menegaskan adanya oposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Misalnya : Rangkaian penemuan ini—evolusi, teori, kenisbian, dan juga pembelahan atom—telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tunggal yang berarti ‘sampai 
     dengan’ atau di antara dua nama kota yang berarti ‘ke’ atau ‘sampai’.
     Misalnya : 1910—1945
                       Tanggal 5—10 April 1970
                            Jakarta—Bandung
G.  Tanda Elipsis ( . . . )
tanda elipsis menggambarkan kalimat yang terputus-putus.
         Misalnya : kalau begitu…ya, marilah kita bergerak.

       2.tanda elipsis menunjukan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan.
          Misalnya : Sebab-sebab kemerosotan…..akan diteliti lebih lanjut.

Catatan : Kalau bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat perlu dipakai empat 
               titik : tiga untuk penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.
Misalnya : Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati…..

H.   Tanda Tanya ( ? )
       1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
           Misalnya : Kapan ia berangkat ?
                             Saudara tahu, bukan ?
       2.Tanda tanya dipakai di antara tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat
          yang disangsikan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
          Misalnya : Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).
                            Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

I.  Tanda Seru ( ! )
     Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau 
     Perintah, atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang 
     kuat.
     Misalnya : Alangkah seramnya peristiwa itu !
                       Bersihkan kamar ini sekarang juga !
                       Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak istrinya !
                       Merdeka !

J.  Tanda Kurung ((…))
     1. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
         Misalnya : DIP (Daftar Isian Proyek) kantor itu sudah selesai.
     2. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral
          pokok pembicaraan.
          Misalnya :  Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama tempat yang terkenal di
                             Bali) ditulis pada tahun 1962. Keterangan itu menunjukan arus
                             perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.
     3. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu seri keterangan.   
         Angka atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup saja.
         Misalnya : Faktor-faktor produksi menyangkut masalah :
                           (1).Alam;
                           (2).Tenaga kerja; dan
                           (3).Modal

                           (a) alam;
                           (b) tenaga kerja; dan
                           (c) modal.
        Faktor-faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c)
        modal.

K.   Tanda Kurung Siku ( [ . . . ] )
        1.Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau
            tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu
            merupakan isyarat bahwa kesalahan itu memang terdapat di dalam naskah asal.
            Misalnya : Sang Sapurba men[d] engar bunyi gemerisik.

        2. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah   
            bertanda kurung.
            Misalnya : (Perbedaan antara dua macam proses ini [lihat bab I] tidak   
                                dibicarakan).
           
L.    Tanda Petik (“…”)
        1. Tanda Petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, 
            atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi di   
            sebelah atas baris.
            Misalnya : “Sudah siap?” tanya Awal.
                              “Saya belum siap,” seru Mira, “tunggu sebentar!”
        2.  Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal atau kata yang 
             mempunyai arti khusus.
             Misalnya : Bacalah “Bola lampu” dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu   
             Tempat.
             Karangan Andi Hakim Nasution yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di
             SMA” diterbitkan dalam Tempo
             Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.
         3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal atau kata yang  
             mempunyai arti khusus.
             Misalnya : Pekerjaannya itu dilaksanakannya dengan cara “coba dan ralat” saja.
             Ia bercelana panjang yang dikalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.
         4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
             Misalnya : Kata Tono, “Saya juga minta satu”.
         5. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan dibelakang tanda  
             petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus.
             Misalnya : Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”
             Bang Komar sering disebut “pahlawan”; ia sendiri tidak tahu sebabnya.

M.    Tanda Petik Tunggal ( ‘ . . .’)
         1.  Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
              Misalnya : Tanya Basri, “Kaudengar bunyi’Kring-kring tadi?”
                                Waktu kubuka pintu kamar depan, kudengar anakku, ‘Ibu, Bapak  
                                 pulang’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.
         2.  Tanda petik tunggal mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan 
              asing.
              Misalnya : rate of inflation ‘laju inflasi’

N.      Tanda Ulang ( . . .2) (angka 2 biasa)
          Tanda ulang dapat dipakai dalam tulisan cepat dan notula untuk menyatakan
          pengulangan kata dasar.
          Misalnya : kata2
                           lebih2
                           sekali2

O.      Tanda Garis Miring ( / )
          1. Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat.
              Misalnya : No. 7/PK/1973
          2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, per, atau nomor  
              alamat.
              Misalnya : mahasiswa/mahasiswi
                                harganya Rp 15,00/lembar
                                jalan daksinapati IV/3

P.       Tanda Penyingkat (Apostrof) (`)
          Tanda apostrof menunjukan penghilangan bagian kata.
          Misalnya : Ali `kan kusurati  (`kan = akan)
                            Malam `lah tiba    (`lah = telah) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar